Tanggamus, Akbar News – Pemerintah Provinsi Lampung terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung upaya pengendalian perubahan iklim melalui penguatan Program Kampung Iklim (ProKlim). Salah satu implementasi nyata program tersebut dilakukan di Kelompok Tani Waringin Kencana 1, Pekon Gisting Atas, Kabupaten Tanggamus, dengan mengembangkan pengolahan limbah organik menjadi kompos cacing (kascing).
Program ini merupakan bagian dari dukungan pendanaan Result Based Payment (RBP) REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2, yang diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca pada periode 2014–2016. Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah yang memperoleh manfaat dari program tersebut untuk memperkuat aksi-aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di tingkat masyarakat.
Melalui inovasi pengolahan limbah organik menjadi kascing, masyarakat tidak hanya mampu mengurangi volume sampah organik yang sebelumnya tidak termanfaatkan, tetapi juga menghasilkan pupuk organik berkualitas yang bermanfaat bagi sektor pertanian. Penggunaan kascing dinilai mampu meningkatkan kesuburan tanah, mendukung praktik pertanian berkelanjutan, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.
Kegiatan ini juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan karena berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca yang berasal dari pembusukan sampah organik. Selain itu, pengelolaan sampah berbasis masyarakat menjadi salah satu langkah strategis dalam menciptakan desa yang lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung, Riski Sofyan, S.STP., M.Si., mengatakan bahwa penguatan Program Kampung Iklim merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemerintah Provinsi Lampung dalam menjaga kualitas lingkungan hidup sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi hijau. Riski Sofyan diketahui menjabat sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung sejak tahun 2025.
“Program Kampung Iklim tidak hanya berbicara mengenai pelestarian lingkungan, tetapi juga bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan. Pengolahan limbah organik menjadi kompos cacing adalah contoh nyata bahwa aksi iklim dapat berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas pertanian dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Riski Sofyan.
Menurutnya, keberhasilan kelompok tani di Pekon Gisting Atas menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Provinsi Lampung. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, pemerintah optimistis target pengurangan emisi dan peningkatan kualitas lingkungan hidup dapat tercapai secara berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi Lampung berharap melalui dukungan pendanaan internasional dan kolaborasi berbagai pihak, Program Kampung Iklim dapat terus berkembang sehingga mampu memperkuat ketahanan masyarakat terhadap perubahan iklim sekaligus mendukung pembangunan daerah yang ramah lingkungan.
Program ini juga sejalan dengan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung dalam menjaga kelestarian lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui berbagai inovasi pengelolaan sampah, konservasi sumber daya alam, serta pemberdayaan masyarakat berbasis lingkungan. *(Ist/Red)












